Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #2_Melatih Kemandirian Anak
MELATIH KEMANDIRIAN ANAK
Bunda,
terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN
ANAK”.
Pekan
ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama
dengan anak-anak di rumah.
Sekali
lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi
adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai tercapai
tujuan akhir.
Sikap/sifat
yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi
luar biasa.
KEMANDIRIAN
erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih
anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada seberapa besar tingkat
keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa
bergantung pada orang lain.
Anak
mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.
Seorang
anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak
tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa life skill yang
perlu dimiliki oleh anak.
Ketika
hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka
Jangan
pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah
Hasilnya
akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal
inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik
kemandirian anak kita.
Karena
kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang
dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.
Gejala-gejala
tersebut seperti contoh di bawah ini:
a.
Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar,
bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku
tidak konsisten.
b.
Sikap tidak peduli terhadap lingkungan
sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak
yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung
pada keluarganya.
c.
Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan
kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang
meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir
dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.
Kalau
melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak sekarang,
sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah
nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.
Berikut
beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan
anak-anak kita secara global.
☘Ciri khas kemandirian anak :
a.
Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan
masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.
b.
Anak
mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil
sebelum berbuat.
c.
Anak percaya terhadap penilaian sendiri,
sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.
d.
Anak memiliki kontrol yang lebih baik terhadap
kehidupannya
Menurut
Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam
lima komponen sbb :
a.
MERDEKA, anak
bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung
orang lain
b.
PROGRESIF,
berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.
c.
INISIATIF ,
mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif
d.
TERKENDALI
DARI DALAM, individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu
mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .
e.
KEMANTAPAN
DIRI,
memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri,
menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.
Kemandirian-kemandirian
tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak
kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan
kemandirian yang lebih untuk mencapainya.
Sumber Bacaan :
Masrun dkk, Jurnal Kemandirian
Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016
Institut Ibu Profesional, Bunda
Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016
Trilling dan Fadel, 21st
century skills, 2009
Komentar
Posting Komentar