Cemilan#2_Meningkatkan Kecerdasan Anak
POTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP (Bagian 1)
Sebelum ditemukannya ragam kecerdasan (IQ, EI,SI, dan AI),
seorang anak dikatakan cerdas jika memiliki IQ yang tinggi. Sebaliknya anak
dikatakan bodoh jika ber-IQ rendah.
Kecerdasan
Intelektual (IQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia
untuk bisa melakukan beberapa kemampuan seperti, kemampuan menalar;
merencanakan masalah; berpikir; memahami gagasan; dan belajar.
Menurut Conny Setiawan dalam buku “Perspektif Pendidikan Anak
Berbakat” ada tiga komponen penting yang dianggap esensi intelegensi, yakni
penilaian, pengertian, dan penalaran.
Berkat kecerdasan intelektualnya, manusia telah mampu menjelajah
ke bulan dan luar angkasa; menciptakan teknologi informasi dan transportasi
yang sangat membantu dan lain sebagainya. Namun, ketika IQ saja yang menjadi
dasar seseorang bergerak, maka di samping ada kemajuan pesat buah dari
kecerdasannya itu, terdapat pula banyak kerusakan muncul akibat dari ulah
manusia.
Charles Spearmen, Thurstone, dan Gardner mengembangkan teori multiple intelligence (MI) yang
mengukur kecerdasan tidak hanya dari satu aspek kemampuan. Teori MI ini lebih
manusiawi karena intelegensi manusia diukur dari tujuh dimensi yang semi
otonom. Masing-masing adalah : 1) linguistik, 2) music, 3) Matematik Logis, 4)
Visual-Spasial, 5) Kinestetik-Fisik, 6) Sosial Interpersonal dan 7)
Intra-Personal.
Seperti diungkapkan Suharsono dalam buku “Mencerdaskan Anak”,
ketujuh macam kecerdasan ini merupakan fungsi dari dua belahan otak kiri dan
otak kanan. Otak kiri memiliki kemampuan dan potensi memecahkan problem
matematik, logis dan fenomenal. Otak kanan memiliki kemampuan merespon hal-hal
yang sifatnya kualitatif, artistic dan abstrak.
Diperlukan upaya pendekatan yang berbeda agar anak menjadi lebih tertantang ide kreatif dan inovatifnya.
Daniel Goldman menawarkan pendekatan baru dalam memandang
kecerdasan seseorang dengan mengenalkan Kecerdasan
Emosi (emotional Intelligence) yakni kemampuan untuk mendeteksi dan
mengenali emosi sendiri maupun orang lain.
Menurut Suharsono, Perbedaan nyata antara IQ dan EI terutama
pada hal “apa” yang menjadi objek kecerdasan itu sendiri. IQ lebih memandang
objek-objek di luar diri manusia (out-ward klooking) sedangkan EI lebih
memperhatikan fenomenal yang berada di dalam diri manusia (in-ward looking).
Khairul Ummah (2003) menyatakan bahwa kunci sukses yang
sebenarnya tidak lain adalah kemampuan memahami emosi diri dan emosi orang lain
serta memanfaatkan interaksi emosional ini semaksimal mungkin untuk tujuan
positif yang hendak dicapai bersama.
Kecerdasan emosi penting untuk menangani situasi yang bermuatan
emosi, suatu kondisi yang sering terjadi. Muatan dari emosi negatif serta
dampak dari kepercayaan diri, keberanian dan kejujuran dapat diperoleh dengan
baik melalui kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi merupakan faktor yang jelas
mengatur pola kehidupan. Kecerdasan ini penting dalam pengelolaan emosi yang
diperlukan hingga mampu membangun pola yang berhasil. Pengembangan kecerdasan
emosi sangat penting bagi keberhasilan tingkah laku dan organisasi. Kecerdasan
emosi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan hubungan di masyarakat.
Kecerdasan ini juga dapat menghilangkan perasaan takut, cemas, dan marah yang
bisa menghambat proses pengendalian emosi.
Saifullah.A & Nine Adien MAulana, Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak, 2005, Yogyakarta: Ar-Ruz Media
Tim Fasilitator Nasional Kelas Bunsay IIP
Komentar
Posting Komentar