Cemilan#1_Meningkatkan Kecerdasan Anak
Materi 3 : Pentingnya meningkatkan kecerdasan anak demi
kebahagiaan hidup
Kecerdasan
Menghadapi Tantangan
Adversity Quotient atau
Adversity Intelligence merupakan
sebuah teori yang merumuskan tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai
KESUKSESAN. Adversity Quotient
dikembangkan oleh seorang konsultan bisnis yang dikenal secara internasional
bernama Paul G. Stoltz, PhD. Menurut Stoltz, dengan AQ kita akan lebih
produktif, kreatif, dan kompetitif walaupun kita berada di tengah lingkungan
yang terus bergolak. AQ menggabungkan riset psikologis kognitif,
psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi untuk membentuk suatu gambaran lengkap
tentang bagaimana cara manusia dalam
mendekati kesulitan. Sementara pada kenyataannya, kesulitan adalah suatu hal
yang paling banyak dihindari. Namun dalam AQ, kesulitan justru sebuah TANTANGAN
yang akan menjadikan hidup lebih hidup.
AQ merupakan sebuah alat ukur yang akan menentukan beberapa
kondisi kontradiktif dalam diri seseorang.
Kondisi kontradiktif tersebut adalah pilihan. Bagi mereka yang
berharap sukses maka sikap-sikap positiflah yang pasti diambil. Sebaliknya,
mereka yang tidak bertekad untuk berhasil, sangat wajar jika kemudian hanya
berkutat pada kondisi statis, tidak mau bergerak, cepat merasa puas, dan hanya mampu
berdiam diri ketika menghadapi kegagalan. Selanjutnya, kondisi kontradiktif
tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita tentang sikap-sikap yang bisa
membangun AQ berikut:
·
Ketangguhan
·
Keyakinan
·
Kekuatan
·
Kepercayaan Diri
·
Berbesar Hati
·
Daya Tahan
·
Daya Juang
·
Tak pernah bosan untuk mencoba
·
Berani memulai
·
Kreatif
·
Optimisme
·
Ketekunan
·
Keuletan
·
Vitalitas
·
Orientasi masa depan
·
Kaya akan berbagai kemungkinan
Antara
AQ dan Pendakian
Pendakian adalah sebuah analogi cukup tegas bagi Adversity Quotient. Pendakian yang
dimaksud adalah proses. Proses apa saja kira-kira?
1. Proses
dari tidak ada menjadi ada
2. Proses
dari tidak punya menjadi punya
3. Proses
dari tidak bisa menjadi bisa
4. Proses
dari sikap bergantung menuju kehidupan yang lebih mandiri
5. Proses
dari sebuah harapan mewujud kenyataan
6. Proses
dalam menggerakan tujuan hidup
7. Dan
proses-proses lainnya.
Mendaki disini bukanlah mendaki sebuah gunung dalam arti
denotatif, melainkan mendaki gunung kehidupan dengan segala hambatan dan
rintangan. Mendaki gunung kehidupan yang kaya dengan liku-liku perjalanan.
Mendaki gunung harapan dengan segala onak dan durinya. Mendaki gunung impian
dengan segala bentuk upaya dan kesungguhan.
Stoltz menganalogikan tiga jenis kepribadian manusia yang bisa
menggambarkan kemampuan AQ, yaitu Quitters (berhenti), Campers (berkemah),
dan Climbers (pendaki).
1.
Quitters (Berhenti)
Mereka
yang disebut quitters adalah orang yang berhenti melakukan pendakian
jauh sebelum menuju puncak atau bahkan menolak terhadap pendakian dan
memutuskan untuk berdiam diri.
·
menolak untuk mendaki lebih tinggi
·
gaya hidupnya datar dan tidak 'lengkap'
·
bekerja sekedar cukup untuk hidup
·
cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari
komitmen yang sesungguhnya
·
jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati
·
mereka cenderung melawan atau lari dalam menghadapi
perubahan
·
terampil menggunakan kata yang sifatnya membatasi, seperti
'tidakmau'
·
kemampuannya kecil, tidak memiliki keyakinan akan masa
depan, kontribusinya kecil
2.
Campers (Berkemah)
Mereka
yang disebut campers adalah orang yang menghentikan perjalanan
(pendakian) dengan dalih ketidakmampuan atau sudah merasa cukup. Mereka
beranggapan bahwa berhentinya pendakian adalah sebagai tanda telah dilakukannya
berbagai upaya dan pengorbanan.
·
mereka mau mendaki, meskipun akan 'berhenti' di pos
tertentu dan merasa cukup sampai di situ
·
mereka cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu
·
masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat dan
beberapa usaha
·
mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan
kepuasan
·
menahan diri terhadap perubahan
·
menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis,
misalnya 'ini cukup bagus'; 'cukup sampai di sini saja'
·
meski sudah melalui berbagai rintangan, namun mereka akan
erhenti juga pada suatu tempat dan 'berkemah' di situ
3.
Climbers (Pendaki)
Mereka yang disebut climbers adalah orang yang terus bertahan melakukan pendakian sampai pendakian tersebut benar-benar menuju puncak. Mereka tidak menghiraukan lelah dan letih. Mereka juga tidak menghiraukan harta dan tenaga yang telah dikorbankan. Bagi mereka, totalitas dan komitmen adalah keniscayaan. Oleh karena itu, segala bentuk rintangan dan hambatan dinikmatinya sebagai tantangan yang akan mendongkrak dirinya untuk menjadi pahlawan yang sebenarnya.
·
mereka membaktikan dirinya untuk terus 'mendaki', pemikir
yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan
·
hidupnya 'lengkap' karena telah melewati dan mengalami
semua tahapan sebelumnya
·
menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki
semangat tinggi dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup
·
berani menjelajahi potensi-potensi tanpa batas
·
menyambut baik setiap perubahan
·
bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata yang penuh
kemungkinan, berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan caranya, berbicara
tentang tindakan
·
memberikan kontribusi besar karena bisa mewujudkan potensi
yang ada pada dirinya
·
tidak asing dengan situasi sulit
Kaitan AQ dengan pendakian, salah satu tugas utama kita sebagai
orangtua adalah meyakinkan buah hati kita untuk mampu bertahan melewati semua
tahapan kehidupan dengan segala problema dan dilematikanya. Selain itu, kita
juga mampu meyakinkan kepada mereka bahwa segala sesuatu tidak bisa didapat
secara instan. Segala sesuatu tidak terjadi secara tiba-tiba karena semua ada
proses yang mengiringinya.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Yoga, Miarti. Adversity Quotient, agar anak tak gampang
menyerah. Tinta Medina
Komentar
Posting Komentar