Cemilan#2_Memahami Gaya Belajar Anak
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Anakku malas belajar"
Pernah dapat keluhan ini dari teman-teman sejawat?, atau dari
tetangga?Saudara? atau kita sendirilah yang mengeluhkan hal ini.
Benarkah anak-anak kita malas belajar?. Atau jangan-jangan
kitalah yang terlalu mengkotak-kotakkan pengertian belajar, sehingga menjadi
"duduk diam di meja belajar sambil baca buku atau menulis/menyalin".
Fitrahnya setiap anak adalah pembelajar sejati, bagaimana
tidak?.
Setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh, bayi tidak
memutuskan merangkak seumur hidupnya, namun ia menuntaskan belajar berjalan
dengan gigih, sampai bisa berlari dan melompat. Setiap bayi yang dilahirkan
adalah penjelajah yang penuh rasa ingin tahu (discoverer, curiousity) setiap sudut rumah jadi targetnya. Setiap
bayi yang lahir juga penuh dengan daya imajinasi kreatif. Lihat saja, di tangan
kanak-kanak kita, sangkutan baju jadi pesawat, kursi jadi kuda pacu, awan dicat
berwarna ungu, matahari berubah pink (merah muda) dan lain sebagainya. Tugas
kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.
Lalu mengapa bisa berubah menjadi enggan atau malas belajar?.
Jangan-jangan kitalah yang telah mengubur dan menyimpangkan fitrah belajarnya.
Apa saja yang bisa mencerabut fitrah belajar anak-anak kita?
1. pendidik
(orangtua/guru) yang terlalu menyetir proses belajar anak, sehingga daya
kreatif anak lumpuh.
2. pendidik
yang terlalu banyak menyarikan materi, anak-anak tidak berkesempatan memaknai
dan menemukan asosiasi antara ide-ide, sehingga daya pikirnya tidak terlatih
3. Buku
teks yang digunakan tak mengandung ide-ide menggugah
4. Dipakainya
kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak-anak bukan
belajar karena "rasa ingin tahunya".
Kita
tidak bisa memastikan buku mana yang akan menggetarkan jiwa seorang anak;
lukisan atau komposisi mana yang akan memantik apresiasi seninya; kunjungan ke
tempat historis mana yang akan membangkitkan kesadaran sejarahnya. Setiap anak
akan memberi respon secara berbeda-beda sesuai keunikan minat dan kepribadian
mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membuka akses selebar-lebarnya untuk
mereka pada seberagam mungkin ide yang berharga (Charlotte Mason)
Banyak orang mengira, kemampuan manusia yang utama dalam belajar
adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhanpun, Allah ciptakan mampu
beradaptasi. Demikian juga, jika kita menganggap kemampuan utama manusia itu
adalah kompetisi, karena sesungguhnya hewan dan jin pun berkompetisi.
Ketahuilah
bahwa kemampuan manusia yang utama adalah mengelola, mengklasifikasi,
menginovasi dan mewariskan pengetahuan sebagai produk dari potensi fitrah
belajarnya. Seribu kera bisa dilatih memancing ikan, namun tidak satupun
dari mereka mampu menciptakan kail dan mewariskan pada anak-anaknya.
Sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki potensi
fitrah belajar. Para orang tua/pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan
belajar anak-anaknya. Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam
dan hati orangtuanya yang terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi
curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan
petualangan belajarnya, bagi kesempatan untuk semakin menjadi dirinya.
sumber bacaan:
Fitrah based Education, 2016, Harry Santosa, Yayasan Cahaya
Mutiara Timur.
Komentar
Posting Komentar