Cemilan#1_Memahami Gaya Belajar Anak
Apakah Bunda sudah mulai mengamati ananda, seperti apakah
kecenderungan pilihan cara belajar yang mungkin nampak dominan pada ananda? Apakah
Bunda melihat kadang ketika mempelajari satu bidang anak cenderung suka dengan
cara mendengar, namun untuk bidang pelajaran yang lain anak kita lebih dapat
memahami dengan cara membaca misalnya. Lalu apakah visual, auditory dan
kinestetik sebuah karakter? Atau sebetulnya itu adalah sebuah modalitas
belajar?
Lalu kemudian jika itu merupakan modalitas belajar, bagaimanakah
cara bekerjanya?
Dalam kajian NLP (Neuro-Linguistic
Programming) gambar, suara, rasa aroma dan sensasi yang ada dalam pikiran
kita disebut sebagai representasi internal atau dalam bahasa psikologi lazim
disebut sebagai persepsi.
Representasi internal inilah yang mempengaruhi state (sikap) dan ujung-ujungnya
mempengaruhi perilaku anak. Representasi internal terbentuk melalui sistem representasi.
Sistem representasi (biasa disingkat dengan rep system) ini adalah ibarat pintu
masuk dari persepsi. Berupa apakah rep system tersebut? Betul, rep system tak
lain adalah VAKOG itu sendiri yaitu visual, auditorial, kinestetik, olfaktory
(Indra penciuman) dan gustatory (indra pengecapan).
Bagaimanakah rep system bekerja? Rep system bekerja dengan cara
menerima informasi dan mengaktifkan memori yang kita miliki untuk kemudian
digunakan sebagai referensi dalam menghasilkan perilaku tertentu.
Nah, Rep system inilah yang dinamakan dengan learning modality atau modalitas
belajar. Maka dengan rep system yang terstimulasi dengan optimal maka akan
menentukan kualitas yang dihasilkan dalam pemrosesan informasi oleh rep system
ini. Contohnya, jika kita stimulasi anak secara optimal untuk mempelajari satu
buah jeruk, seperti apa jeruk itu?? Maka learning modality nya kita optimalkan
penuh secara full sensori.
Informasi-->masuk melalui rep system (VAKOG)= learning modalities
Setiap individu memiliki perpaduan learning modalities (gaya belajar) yang beragam. Beberapa mendapati
mereka lebih dominan di satu gaya dan tidak menggunakan banyak gaya lain dalam
belajar. Bagi sebagian orang caranya saat itu sangat efektif untuk mendapatkan
pengalaman belajar yang optimal. Namun pada beberapa orang yang lain mungkin
juga akan merubah gaya belajarnya ketika mereka mengalami perbedaan kondisi
yang dihadapi atau jenis pelajaran yang diterima. Tidak ada paduan yang tetap,
atau gaya belajar yang fix pada setiap orang.
Bisa saja kita mengembangkan gaya belajar yang semula jarang
kita pakai, namun pada konteks lain menjadi sangat efektif dipakai.
Kemudian oleh karena sensory VAKOG merupakan pintu masuk
informasi, maka VAKOG itu sebaiknya di stimulasi, agar terintegrasi, nah yuk
kita pelajari apa sih sebetulnya sensory integrasi ini?
Sebab bisa jadi bekal seorang anak bisa mendapatkan learning
style nya ada proses yang bisa kita awali dari proses stimulasi atas
sensory integrasi ini. Menariknya dalam sensory integrasi, ditambahkan dua
macam sensori lagi, apa sajakah? Mari kita simak tulisan saudari Riezqa Ratna
berikut:
Istilah sensory
integration (SI) pertama kali dicetuskan oleh DR. Anna Jean Ayres
(1920-1989). Beliau seorang psikolog pendidikan, neuropsychologist dan terapis okupasi. Ayres mengemukakan adanya
hubungan antara perilaku seseorang dengan perkembangan fungsi otak.
Teori Sensory
Integration menjelaskan bagaimana cara otak menerima dan memproses
stimulus atau input sensorik dari lingkungan di sekitar kita dan dari dalam
tubuh kita sendiri. Apabila seorang anak dapat memproses input sensorik dengan
baik, maka ia akan berperilaku secara adaptif. Akan tetapi bila seorang anak
tidak dapat memproses input sensorik dengan baik, maka perilaku yang muncul
seperti mereka mengalami kesulitan untuk mengolah input sensorik yang masuk,
misalnya bila dipanggil namanya mereka tidak merespon, diajak bicara, tidak
menanggapi (Ayres, 1979). Anak akan berespon secara berlebihan pada suatu input
yang sebenarnya tidak membahayakan atau anak mengabaikan input yang masuk
(perilaku maladaptive). Menurut Bundy, Lane dan Murray (2002), Sensory Integration adalah
teori hubungan antara otak dan perilaku. Ayres (1972) mendefinisikan Sensory
Integration sebagai:
“The neurological process that organized sensation from one’s
own body and from environmental and make it possible to use the body
effectively within the environment”. (Proses neurologis individu dalam
mengorganisasikan sensasi dari dalam diri dan dari lingkungan sekitar dan dapat
digunakan secara efektif dalam lingkungannya).
Setiap detik, menit dan jam tak terhitung berapa banyak
informasi sensori yang masuk kedalam tubuh manusia seperti aliran air sungai
yang tak hentinya. Tidak hanya dari telinga dan mata, tapi dari seluruh bagian
tubuh. Sang anak harus mampu untuk mengatur seluruh sensori tersebut jika
seseorang ingin bergerak, belajar dan berperilaku. Sensori tersebut memberikan
informasi tentang kondisi fisik tubuh dan lingkungan disekitar.
Adapun ketidakberfungsian integrasi sensoris atau sensory integration dysfunction itu
sendiri adalah ketidakmampuan untuk memproses informasi yang diterima melalui
indra. Ketidakberfungsian terjadi di dalam sistem saraf pusat yang terdapat
dalam kepala yang disebut dengan otak. Ketika masalah teknis terjadi, otak
tidak mampu untuk melakukan analisis, pengorganisasian, dan tidak mampu
melakukan hubungan atau integrasi pesan-pesan sensoris. Akibat
ketidakberfungsian integrasi sensoris, seorang anak tidak dapat melakukan
respon atau menanggapi informasi sensoris untuk dijadikan sesuatu yang bermakna
secara konsisten. Anak tersebut memperoleh kesulitan dalam menggunakan
informasi sensoris untuk dibuat rencana atau diorganisasi dengan apa yang
semestinya ia lakukan (konsentrasi belajar terganggu). Jadi, ia tidak belajar
secara mudah.
Melalui panca indra yang tersedia, manusia memperoleh informasi
tentang kondisi fisik dan lingkungan yang berada di sekitarnya (Ayres, 1979).
Informasi sensorik (Sensory information)
tersebut berasal dari:
1. Mata
(Visual)
Mata
(Visual) disebut juga indera penglihatan. Terletak pada retina. Fungsinya
menyampaikan semua informasi visual tentang benda dan manusia.
2. Telinga
(Auditory)
Telinga
(Auditory) disebut juga indera pendengaran, terletak di telinga bagian dalam.
Fungsinya meneruskan informasi suara. Ayres (1972) menyebutkan adanya hubungan
antara sistem auditory ini dengan perkembangan bahasa. Apabila sistem auditory
mengalami gangguan, maka perkembangan bahasanya juga akan terganggu.
3. Hidung
(Olfactory)
Hidung
(Olfactory) disebut juga indera pembau, terletak pada selaput lendir hidung,
fungsinya meneruskan informasi mengenai bau-bauan (bunga, parfum, bau makanan).
4. Lidah
(Gustatory)
Lidah
(Gustatory) disebut juga indera perasa, terletak pada lidah, fungsinya
meneruskan informasi tentang rasa (manis, asam, pahit,dan lain-lain) dan tektur
di mulut (kasar, halus, dan lain-lain).
5. Kulit
(Tactile)
Kulit
(Tactile) adalah indera peraba. Terletak pada kulit dan sebagian dari selaput
lendir. Bayi yang baru lahir, menerima informasi untuk pertama kalinya melalui
indera peraba ini. Trott, Laurel dan Windeck (1993), menjelaskan bahwa:
“Processing
tactile information effectively allow us to feel save, which in turn allows us
to bond with those who love us and to develop socially and emotionally.”
Sistem
taktil ini mempunyai dua sifat, yaitu diskriminatif dan protektif.
Diskriminatif adalah kemampuan membedakan rasa (kasar, halus, dingin, panas),
sedangkan sifat protektif adalah kemampuan untuk menghindar atau menjaga dari
input sensorik yang berbahaya. Dari sifat kedua ini, akan menimbulkan
respon flight, fright dan fight (Trott, Laurel dan Windeck,
1993).
6. Otot
dan persendian (Proprioceptive)
Ayres
(1979) menyebutkan bahwa proprioseptif merupakan sensasi yang berasal dari
dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen dan reseptor yang
berhubungan dengan tulang. Ayres (1979) menyebutkan bahwa sistem vestibular dan
proprioseptif merupakan dua sistem yang spesial dan Ayres menyebutnya sebagai
“The Hidden Sense”. Input proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak
tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau meregang
(stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang
(extending), ditaril (beingpull) atau ditekan (compressed). Melalui informasi
ini, individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana
bagian tubuh tersebut bergerak (dalam Ayres, 1972).
7. Keseimbangan
/ balance (Vestibular)
Ayres
(1979) menyebut sistem vestibular ini sebagai “business center”, karena semua sistem sensorik berkaitan dengan
sistem ini. Sistem vestibular ini terletak pada labyrinth di dalam telinga
bagian tengah. Fungsinya meneruskan informasi mengenai gerakan dan gravitasi.
Sistem ini sangat mempengaruhi gerakan kepala dalam hubungannya dengan
gravitasi dan gerakan cepat atau lambat (Accelerated
or decelerated movement), gerakan bola mata (okulomotor), tingkat
kewaspadaan ( level of arousal ) dan emosi.
Proses
sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan
berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori
integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri,
kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran,
serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori
integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia sekolah dasar (SD).
Level-Level Sensory
Integration
Ada empat level dalam proses sensori integrasi. Level pertama
berlangsung di usia 0-1 tahun, level kedua 1-2 tahun, level ketiga 3-7 tahun,
dan level keempat tercapai saat anak masuk SD.
1. Level
Pertama (0 – 1 tahun)
Anak
picky eater (pemilih dalam makan)?
sulit menangkap bola? Takut bermain ayunan atau perosotan? Proses Sensori
integrasi level pertama terjadi saat anak berusia 0-1 tahun. Tiga hal penting
yang terbentuk adalah taktil, integrasi vestibular dan proprioreseptif, dan
gravitational security.
Tactile
memberikan rasa aman dan nyaman terhadap apa yang anak menyentuh dan ketika
disentuh, ini bahkan berpengaruh pada kenyamanannya bersosialisasi kelak. Awal
dari tactile adalah kelekatan ibu dan anak. Menyusui dan menggendong anak
adalah stimulasi yang baik bagi si kecil. Dengan menyusui, bayi akan menerima
informasi suhu tubuh dan tekstur kulit ibu serta tekanan yang ia rasakan. Ini
menjelaskan kenapa bayi hanya benar-benar bisa tenang saat ia berada di dekat
ibunya, karena suhu, tekstur, dan tekanan ibulah yang familiar dengannya. Anak
yang picky eater biasanya punya masalah pada saat menghisap, dan ini akan
terdeteksi ketika anak menyusu. Bila hisapannya lemah, otot kunyahnya juga
tidak bekerja baik sehingga kesulitan memakan makanan yang dengan tekstur
tertentu.
Gravitational
security juga terbentuk di level pertama. Pernah dengar larangan
menggendong dan mengayun-ayun bayi? Sebaiknya anda abaikan karena apabila bayi
digendong dan diayun maka itu berarti ia mendapat informasi yang lebih banyak
tentang arah dan merasakan gravitasi, dan karena ia merasa tetap nyaman dalam
gendongan, iapun merasa aman dengan gaya gravitasi. Tak heran kalau nanti di
usia 3-4 tahun ia akan dengan yakin melompat, berayun, dan meluncur. Stimulasi
yang ia terima jauh lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang lebih banyak
didiamkan saja di ranjang atau stroller. Salah satu integrasi vestibular dan
proprioreseptif yang penting di level ini adalah kontrol gerakan mata. Mainan
yang digantung di atas ranjang bayi bisa berpengaruh pada perkembangan
vestibular si kecil. Hindari mainan yang berputar, pilih mainan yang bergerak
kanan-kiri atau depan belakang karena gerakan ini yang ia butuhkan untuk
menstimulasi system vestibularnya, gerak otot matapun akan terlatih dengan baik
dan inilah pondasi untuknya saat belajar menbaca kelak. Yang dibutuhkan adalah
sesuatu yang bergerak sederhana, kanan-kiri, depan-belakang, atas bawah.
Gerakan berputar, apalagi layar televisi yang bergerak sangat cepat terlalu
kompleks dan malah membuat gerak otot matanya tidak berkembang dengan baik.
2. Level
Kedua (1-2 Tahun)
Anak
pendiam? Hiperaktif? Enggan mencoba hal baru? Tidak tertarik dengan mainan atau
permainan yang baru? Anak usia 1-2 tahun mulai tertarik pada benda-benda
di luar dirinya. Dia mulai suka mencopot , memasang, membuka, menutup, mencari
tahu bagaimana sesuatu bekerja. Misalnya saja saat ia melihat botol berisi air,
dia mungkin akan mencoba membukanya dengan memukul-mukul, membanting,
menggigit, dan seterusnya. Fungsi taktil, vestibular, dan proprioreseptif
sebagai dasar kestabilan emosi berkembang pada level ini. Sangat penting untuk
membiarkannya mencoba banyak hal sehingga pengalamannya semakin banyak. Bila
anak banyak dibatasi, dua perilaku akan mungkin terbentuk saat ia tumbuh :
Pendiam atau hiperaktif.
Mungkin
dia akan tampak seperti pendiam, menarik diri, saat berhadapan dengan
lingkungan yang baru. Perilaku ini muncul karena sedikitnya pengalaman membuat
ia tak yakin dengan apa yang harus dilakukan. Iapun menarik diri, seolah-olah
ia adalah anak yang pendiam. Sebaliknya, bisa juga ia menjadi hiperaktif karena
haus akan pengalaman. Ia tak bisa menahan dirinya untuk beralih dari satu
permainan ke permainan yang lain. Tubuh kita memang secara alamiah mencari
kebutuhannya yang tak terpenuhi. Persepsi tubuh anak juga terbentuk di tahap
ini. Berdasarkan pengalaman-pengalamannya, anak akan membentuk peta bagian
tubuh di otak. “Data mentah”-nya adalah pengalaman sensasi dari kulit, otot,
sendi, gravitasi, dan reseptor gerak. Pemetaan yang baik akan menentukan
keberhasilan anak dalam melakukan motor planning, yang berguna dalam kemampuan
beradaptasi dengan hal yang tidak dikenal dan belajar melakukannya secara
otomatis. Apakah anak tampak tak tertarik saat dibelikan mainan baru? Enggan
mencoba atau menunggu dulu dicontohkan oleh orangtuanya? Apakah anak selalu
harus diberi petunjuk ketika memasuki lingkungan yang baru? Tidak berani
berinisiatif?
3. Level
Ketiga (2-5 tahun)
Level
ini dijalani saat anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Proses yang
terjadi adalah masa perkembangan bicara dan bahasa, pembentukan persepsi
visual, penguasaan tingkat persepsi yang lebih tinggi, merasakan benda melalui
menyentuh, memegang, dan menggerakkannya, serta masa berkembangnya koordinasi
mata-tangan. Hal penting yang harus diperhatikan dalam perkembangan bicara dan
bahasa adalah, kemampuan bicara dan berbahasa tidak terjadi begitu saja.
Sebelum mengerti kata, anak harus mampu memperhatikan orang yang berbicara.
Sistem vestibular yang berkembang dengan baik di level sebelumnya membantu anak
untuk memproses apa yang ia dengar dan lihat dengan tepat. Banyaknya pengalaman
di level sebelumnya akan menjadi bank data dalam membentuk persepsi visual.
Anak di usia ini sudah mengenali apa yang ia lihat, apa yang harus dia lakukan
dengan objek yang ia lihat, dan apabila melihat benda yang baru, berdasarkan
pengalamannya ia akan percaya diri akan apa yang bias dilakukan terhadapnya.
Sebagai perkembangan selanjutnya, ia mulai menguasai tingkat persepsi yang
lebih tinggi. Tak hanya melihat benda, ia juga melihat hubungannya terhadap
benda lain dan latar. Contohnya : ia melihat bola, lapangan, dan gawang…ia pun
berlari mengarahkan bola untuk dimasukkan ke gawang. Kali lain ia melihat bola
yang sama, tapi tidak ada gawang, yang ada botol botol berjajar, ia tidak akan
menendangnya tapi menggelindingkan bole ke arah botol. Untuk belajar, anak usia
ini harus merasakan langsung. Misalnya, untuk mengenal berat sebuah benda, ia
akan menyentuh, memegang, dan menggerakkannya. Semakin banyak informasi yang
masuk melalui indera akan menambah bank data pengalaman di otaknya sehingga
membuatnya semakin percaya diri saat bertemu dengan benda-benda yang baru.
Apabila anak terlalu banyak berinteraksi dengan gadget berlayar (HP, tablet,
laptop), kesempatannya untuk mendapat banyak informasi melalui indera akan
sangat sedikit. Ia hanya menonton orang yang menari, tapi tidak merasakan
tubuhnya yang bergerak, perubahan gerak udara, perubahan tekanan pada otot.
Tidak ada data yang masuk ke otak, tidak ada yang diintegrasikan sehingga
pengalaman mereka sangat sedikit. Keasyikan menonton juga mengurangi pengalaman
sosialisasi dan berbahasa.
Level
ini juga merupakan masa penting bagi koordinasi mata dan tangan. Di usia yang
muda, tangan dan jari akan berusaha meraih atau mencoba melakukan hal yang
dilihat oleh mata. Semakin berkembangnya koordinasi mata dan tangan akan
membuatnya siap untuk kegiatan yang lebih kompleks seperti merakit dan menulis.
4. Level
Keempat (5-7 tahun)
Level
ini tercapai saat anak masuk SD. Ia akan lebih spesifik dalam menggunakan satu
sisi tubuh, lebih jelas bagian tubuh sebelah mana yang dominan ia gunakan.
Akhirnya, setelah proses sensori integrasi yang panjang dari pengalaman yang
banyak, harga diri anak, kontrol diri dan kepercayaan diri akan terbentuk. Ia
akan bersikap tenang dan siaga saat mengikuti pelajaran di sekolah. Insyaallah
tak ada lagi cerita anak yang butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas karena
mencari barang-barang seperti pensil dan penghapus, memberi alasan alih-alih
menyelesaikan tugas, ataupun masalah-masalah seperti konsentrasi dan kekuatan
saat menulis.
Bagaimanapun,
anak usia 0-7 tahun kondisinya belumlah stabil, mereka butuh pengalaman
sebanyak-banyaknya sehingga mereka puas bereksplorasi. Kelak saat waktunya
mereka tenang dan siaga mereka telah siap, tak lagi menghindar atau
mencari-cari . Merekapun akan mudah beradaptasi dengan aneka keadaan.
Daftar Pustaka:
NLP The Art of Enjoying Life, Teddi Prasetya Yuliawan, Jakarta:
2014
Komentar
Posting Komentar