Review Tantangan 10 Hari Materi Bunda Sayang #1 : Institut Ibu Profesional
KOMUNIKASI PRODUKTIF
Pertama,
Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari
dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari
ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan
tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan
anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang
terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari
berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti
dari pola komunikasi keluarga kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Dari
“TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri
kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas. Limit yang kita
tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk
kategori tahap manakah diri kita :
a. Tahap Anomi
: Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang
dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun,
karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.
b. b.Tahap
Heteronomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda
awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang
menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan
mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan
persepsi sendiri.
c. Tahap
Sosionomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda
awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten.
Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan
mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.
d. Tahap
Autonomi : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang
dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak hanya berhenti pada
tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh,
tidak ada yang menilai.
Berkomunikasi
produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari”
adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk
mempermudah tercapainya sebuah tujuan.
Maka
komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit
tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah
unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri.
Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda
setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi
produktif dengan diri sendiri.
The greater danger of most of us
is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach
it – Bahaya
besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh
lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita
berhasil mencapainya – Michael angelo
KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Dalam
prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh
teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi
anda dengan pasangan, yaitu :
a. Faktor
Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)
Yaitu bagian
dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus
& semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang
tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego
orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap,
pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa
dan bertingkah laku terhadap dirinya..
Contoh :
Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan
perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk
berbuat baik adalah sikap yang nurturing
parent (NP).
Sebaliknya
ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum,
berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).
b. Faktor
Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)
Yaitu bagian
dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif,
serta inisiatif, masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan
sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana
berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman
semasa kanak-kanak.
Contoh :
Dibedakan antara natural child (NC)
yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya
yang bersifat adapted child (AC)
adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.
c. Faktor
Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu bagian
dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak
menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha
untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang
terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan
berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung
jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan
yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego
dewasa.
Contoh :
Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka
bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, bersifat rasional dan tidak
emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang
dewasa.
Ketiga Ego
tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat
yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.
ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI
a. TRANSAKSI
KOMPLEMENTER
Jenis
transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena
terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu
dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda.
Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa.
Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap
itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat
dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di
antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.
Contoh :
ketika suami
meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan
hal-hal yang logis. (ego dewasa)
suami : :
“Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?” (menggunakan data dan
logika - ego dewasa)
istri : “ayo
kita cari tahu bareng, terakhir ayah
lepas arloji itu dimana? menggunakan ego
dewasa)
b. TRANSAKSI
SILANG
Terjadi
manakala pesan yang dikirimkan komunikator tidak mendapat respons sewajarnya
dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi
antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak
menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalahpahaman sehingga kadang-kadang
orang beralih ke tema pembicaraan lain.
Contoh :
ketika
partner kita mengajak komunikasi berdasarkan ego dewasa, kita menanggapinya
dengan ego anak-anak.
Suami :
“Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?” (menggunakan data dan
logika - ego dewasa)
Istri :
“Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak, masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan
ego anak-anak )
pasti akan
menyulut respon emosi.
c. TRANSAKSI
TERSEMBUNYI
Jika terjadi
campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah
satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya
yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima.
Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari
mereka yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi namun yang diungkapkan hanya
2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya tersembunyi.
Contoh:
Seorang ibu
masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual
memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat
lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan
dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).
Penjual itu
kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang
terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur
tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai
cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung,
dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan
mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.
Menanggapi
pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu,
sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.
BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA
ANAK
Menurut Gary
Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children,
terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;
1. Sentuhan
Fisik,
2. Kata-kata
Mendukung,
3. Waktu
Bersama,
4. Pemberian
Hadiah,
5.
Pelayanan.
Umumnya
setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa
yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam
berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.
1. Apabila
bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
2. Apabila
bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
3. Apabila
bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
4. Apabila
bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
5. Apabila
bahas cintanya adalah Pelayanan
Cara
mengamati bahasa cinta anak :
1. Amati cara
si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila si
Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas
makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah
“Kata-kata Mendukung”.
2. Amati cara
si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila si
Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin
Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.
3. Pelajari apa
yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila si
Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita
untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”.
Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang
sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus
ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata
Mendukung”.
4. Pelajari apa
yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila si
Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti
“Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,”
maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.
5. Beri 2
pilihan kepada si Kecil
Dalam
melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si
Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang
diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada
waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau
Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan
memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu
Bersama” atau “Pelayanan”.
Sumber bacaan :
Gary Chapman & Ross campbell
M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014
Eric Berne, Games people Play,
jakarta
Eric Berne, Transaksional
Analysis, jakarta.
Komentar
Posting Komentar