Cemilan#3_Memahami Gaya Belajar Anak
Banyak orang tua mengeluhkan anak tidak mau mengikuti perintah
atau malah melakukan hal yang dilarang. Pada prinsipnya, anak bukanlah kertas
kosong yang akan pasif menerima semua perintah atau perlakukan dari lingkungan
sekitar. Sebaliknya anak memiliki gambar dan warna sendiri yang tidak dapat
diabaikan begitu saja. Maka pendidikan seharusnya tidak menyamaratakan anak,
tetapi memahami keistimewaan anak dan mengembangkannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Pink memberikan hasil
bahwa dorongan dari luar berupa ganjaran dan hukuman pada anak, tidak efektif
dalam mendidik anak. Apabila seorang anak diberikan iming-iming saat berhasil
dengan satu tantangan, anak memang bisa lebih cepat bertindak, namun dampaknya
cepat menghilang dan menimbulkan ketergantungan. Motivasi Internal berarti
menumbuhkan kesadaran pada diri anak, menghargai anak sebagai benih kehidupan.
Hasilnya tidak terlihat langsung, karena lebih lambat dalam membentuk perilaku.
Namun motivasi internal ini memberikan dampak yang lebih lama, membangun
kemandirian anak dan bisa membantu anak dalam menyelesaikan tugas yang kompleks
dan butuh kreativitas.
Anak lahir dengan kecerdasan tertentu yang butuh
ditumbuhkembangkan secara optimal. Keberagaman potensi anak perlu dipahami oleh
orang tua dan kemudian mendidik anak sesuai dengan potensinya tersebut.
Pendidikan yang menumbuhkan meyakini bahwa anak adalah benih kehidupan. Benih
yang mempunyai karakteristik tertentu, bukan kertas kosong, anak akan bergerak
sendiri, mencari tahu, mengenali, memuaskan rasa ingin tahunya.
Ibarat benih, anak lahir dengan kekuatan menggerakkan akar-akar
ke dalam tanah untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Anak akan terus
menerus bergerak hingga menemukan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahunya.
Anak dengan komposisi kecerdasan visual akan tertarik pada hal-hal yang
memuaskan kebutuhan visualnya. Demikian juga anak dengan komposisi kecerdasan
lainnya. Komposisi kecerdasan ini akan mengambil peran pada gaya belajar anak.
Apakah seseorang hanya mempunyai kecenderungan salah satu gaya
belajar? Belum tentu, bisa saja ia memiliki modalitas belajar perpaduan dari
ketiga ciri tersebut. Tugas kita para pendidik (orangtua/guru) adalah
memberikan stimulasi dengan ketiga ciri gaya belajar dimaksud.
Yang
penting anak pernah merasakan semua gaya belajar. Secara fitrah dirinya akan
belajar mengikuti "suara hati kecil" akan menggunakan gaya yang mana,
atau mengkombinasikan banyak gaya bergantung badai yg dihadapi. Ikuti suara
hati kecil itu biarkan dia yang bersujud membisikkan ke seluruh bumi dan
diamini oleh seluruh penghuni langit. (Septi
Peni Wulandani)*.
Sehingga ilmu itu jadi berkah.
Sumber:
Anak Bukan Kertas Kosong, 2015, Bukik Setiawan, Panda Media
Diskusi ringan di kelas Bunda Sayang Koordinator IIP bersama Ibu
Septi Peni Wulandani, Founder Institut Ibu Profesional
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional/
Komentar
Posting Komentar