Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang Komunikasi Produktif Hari 4
KOMUNIKASI
KELUARGAKU
Jum’at, 27
Januari 2017
Kami adalah
keluarga kecil yang terdiri dari ayah, bunda, dan 1 anak.
Ayah : Umar
Mukhtar Siregar, Dosen, 32 Tahun
Bunda : Yunni
Sari, PNS, 29 Tahun
Anak :
Muhammad Azka Siregar, Smart Baby Boy, 1 Tahun
Family Forum hari ini
gagal berantakan. Maju mundur menuliskannya di sini, tapi setelah dipikir-pikir
tak ada salahnya ditulis untuk evaluasi ke depan. Pagi ini Bunda bangun
terlambat. Pukul 05.00 WIB. Langsung merendam pakaian Azka yang sudah 2 hari
belum dicuci karena hujan terus sepekan ini. Belum lagi membereskan ini itu
karena Bunda harus pergi ke kantor sebelum jam 7 pagi untuk mendapatkan
tumpangan teman kantor lewat tol Amplas. Namun apa yang terjadi??? Bunda belum
selesai berbenah sebelum pukul 7. Bunda mulai panic. Ada telepon dari teman
yang biasa bareng mencari tumpangan dan ternyata tumpangannya sudah berangkat.
Semakin panic. Dan Bunda mulai menyalahkan keadaan dan kalau sudah begini sudah
pasti Ayah yang menjadi sasaran. Entah mengapa selalu begitu. Bunda mulai
merepet panjang lebar karena Bunda berharap Ayah menawarkan diri untuk
mengantarkan Bunda ke kantor, kebetulan Ayah sedang libur, sementara Ayah menganggap
Bunda yang harus minta tolong Ayah untuk mengantarkan Bunda ke kantor. Namun
akhirnya berangkat juga Ayah mengantarkan Bunda ke kantor. Dalam perjalanan ke
kantor Bunda kembali merepet panjang dan biasanya berujung pada tangisan. Untung
Ayah orangnya sabar bener. Ayah hanya diam saja, namun sebenarnya Bunda tahu
Ayah juga pasti kesal benar dengan Bunda. Karena Ayah diam Bunda pun akhirnya
diam sampai Bunda ke kantor. Dalam kediaman itu Bunda menyadari Bunda salah.
Bunda teringat dengan materi komunikasi produktif di Kelas Bunda Sayang. Sudah
jelas dalam kasus ini Bunda yang salah. Bunda berniat memperbaiki kesalahan.
Bunda memulai komunikasi bagaimana sebenarnya kasus tadi pagi bisa
terselesaikan tanpa harus ada emosi sehingga nalar menjadi pendek. Namun
ternyata setelah Bunda sampaikan yang Bunda inginkan, Ayah juga menyampaikan
apa yang dirasakannya. Karena waktu belum tepat karena emosi Bunda masih lebih
panjang daripada nalar, Bunda malah merajuk mendengar pendapat Ayah. Ayah minta
maaf. Bunda masih merajuk, Bunda walk out pamit pergi kerja kepada Ayah dalam
keadaan emosi tinggi. Bunda langsung ke mushalla berwudhu dan shalat Dhuha.
Ayah sudah kembali ke rumah. Seharian kerja Bunda tidak tenang. Sampai waktu
pulang kerja Bunda pulang sendiri, padahal Ayah datang menjemput di dekat tol
Amplas. Bunda sampai di rumah Ayah masih belum pulang. Sesampai di rumah Bunda
telepon Ayah bilang bahwa Bunda sudah sampai di rumah. Sampai menjelang maghrib
Ayah sampai rumah langsung mandi untuk persiapan shalat maghrib di masjid.
Selesai shalat maghrib, Bunda bilang ke Ayah, Azka belekan, apakah kita perlu
ke dokter? Kami telepon dokternya gak angkat, telepon rumah sakitnya ternyata
besok baru dokternya praktek. Akhirnya kami coba telepon teman yang punya
pengalaman anaknya belekan ternyata dikasih ASI biasanya. Kami coba meneteskan
ASI ke mata Azka sambil buat susu. Alhmdlh Azka tertidur.
Hal menarik
yang saya dapatkan dalam berkomunikasi dengan keluarga hari ini adalah saya
sadar benar saya salah namun saya tetap memenangkan ego saya. Astaghfirullah. Ya
Allah ampunkan dosa hamba ya Allah. Bantu hamba menjadi pribadi lebih baik. Terimakasih
sudah mengirimkan pasangan yang luar biasa sabar. Semoga esok lebih baik.
Salam dan
terimakasih
Yunni Sari
Bunda Azka
#hari4
#tantangan10
hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Komentar
Posting Komentar